Comment

"Jangan Lupa Tinggalkan Comment Ya', Matur Nuwun"
Tampilkan postingan dengan label Akoe Dewe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akoe Dewe. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Maret 2011

Berbuat Baik


Bismillahirrohmanirrohiim
                Assalamu’alaikum...

Duduk siap grakkkkk!!! Emmm...mau buat postingan tapi tentang apa yak? (*nunggu sampai 10 menit). Gini nih kalau otak uduk, kalau belum makan nasi uduk otak ga bisa buat mikir. Terpaksa deh...

Aku        : “ U u miiii, mau uduk dong”
Umi        : “ Uduk tong? Berapa bungkus?”
Aku        : ” Iya Umi, satu bungkus aja, yang pedes terus karetnya yang banyak”... hehehe
(*coba buat apaan karetnya?)..
Umi        : “ Gorengannya berapa?”
Aku        : “ Biasa tiga aja mi.. minta plastiknya yang warna pink ya mi, he...”
Umi        : “ Lu mah aneh tong, nih... ga usah bayar ya, gratis”.. (*karet ama plastiknya kalee..)
Aku        : “  Makasih umi..”..
Inilah menu empat sehat, lima ga usah bayar, he...


Orang kalau sering berbuat baik pasti akan selalu dicintai  oleh manusia, bahkan akan dicintai oleh Allah SWT. “ Manusia yang paling di cintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, sedang amal yang paling dicintai Allah adalah membuat senang hati seorang muslim, atau membebaskannya dari kesusahaannya, atau melunasi hutangnya, atau mengusir rasa lapar darinya. Dan sungguh berjalan menemani temandalam memenuhi hajatnya itu lebih aku senangi daripada beri’tikaf di dalam masjid selama sebulan. Barangsiapa bisa menahan amarahnya, niscaya akan Allah tutupi aibnya, dan barangsiapa yang mampu mengalahkan amarahnya, niscaya Allah akan penuhi hatinya dengan rasa ridha di hari kiamat. Barangsiapa yang berjalan menemani saudara muslimnya dalam suatu urusan hingga selesai, niscaya akan Allah kokohkan kakinya tatkala kaki-kaki manusia tergelincir. Dan sungguh akhlak yang buruk itu dapat merusak amal, sebagaimana cukak merusak madu. ” HR. Ath-Thabrani

Berbuat baik nggak cuma dengan orang-orang yang berada dekat dengan kita. Saat Allah mengingatkan kita pada seseorang (*hayooo... mulai deh, maksudnya: temen jauh, orang tua, saudara, guru atau tetangga gitu..atau siapa aja juga boleh). Saat kita diingatkan dengan orang-orang tersebut, salah satu cara berbuat baik dengan mereka adalah mendo’akannya semoga mereka dalam keadaan yang baik. Apalagi terhadap orang yang pernah kita dzalimi atau mendzalimi kita. Bukankah mereka saudara kita?

“Doa seorang muslim untuk saudaranya sesama muslim yang berjauhan adalah mustajab. Di sisi kepalanya ada seorang malaikat yang mendampinginya. Setiap kali dia mendo’akan saudaranya, malaikat itu berkata, “Aamiin, dan bagimu juga seperti itu.” HR. Muslim bab Adz-Dzikru.

Sungguh meski ku merasa jauh
Dari teman yang ada di langit dan di bumi
Tetap dengan semampuku kutolong dan kuhapus kesusahan darinya
Dan serta akan kupenuhi panggilan dan undangannya
Jika dia berhias dengan pakaian indah, maka tak akan kukatakan
“Andai aku bisa memakai pakaian yang lebih indah darinya”..

Sering kita meng ingat-ngat ucapan atau sikap orang lain yang pernah menyinggung perasaan kita, atau membuat sakit hati. Tetapi seringnya kita malah lupa terhadap orang yang sehari-hari disekililing kita atau pernah dekat dengan kita yang selama itu mereka selalu berbuat baik terhadap kita.

(Inspired: Abu Abdullah Faishal bin Abduh Qa’id Al-Hasyidi dalam bukunya “Amalan Ringan Pemikat Hati”)
Semoga bermanfaat..
Wassalamu’alaikum
Mumpung Wi-Fi nya nyala tak upload dulu ah...
Selengkapnya...

Sabtu, 25 September 2010

Bukan karena bahaknya, tetapi sebatas senyumnya saja



Sumber Gambar: aredbutterfly.wordpress.com

Dalam postinganku dulu aku pernah menuliskan sebuah kalimat. Kecantikan wanita bukan hanya karena keindahan wajahnya, tetapi terjaganya mata, bibir dan pipinya dari hasrat duniawi. Bukan hanya karena indah matanya, tetapi terjaganya pandangannya. Bukan hanya karena indah bibirnya, tetapi indah dan santun perkataannya. Bukan karena bahak tawanya, tetapi sebatas senyumnya saja. Bukan karena bicaranya, tetapi ketermenungannya.
               Seorang penyair , Iliya Abu Madhi berkata dalam syairnya...
Dia berkata “ Langit sedang sedih dan bermuran durja”
Aku berkata “ Senyumlah, cukuplah langit yang berduka cita”
Dia berkata “ Masa muda telah pergi berlalu”
Aku berkata “ Tersenyumlah karena sesah sedih masa muda takkan kembali selamanya”
Dia berkata “ Pujaan hatiku yang dulu penuh cinta kini berubah jadi neraka dalam jiwa. Ia menghianatiku setelah kuserahkan seluruh bagian hatiku padanya. Mana mungkin aku akan bermanis muka?”
Aku berkata “ Tersenyumlah dan bergembiralah andai bersamanya barangkali engkau hanya akan hidup penuh dengan duka”
Dia berkata “ Perdagangan di tengah pertempuran yang sengit bak musafir yang disiksa rasa haus tak terkira. Bagai gadis cantik yang baik hari yang butuh darah karena sakit yang menggerogotinya. Dia meludah darah saat kehausan”
Aku berkata “ Tersenyumlah karena dirimu bukanlah penyebab sakit atau kesembuhannya, barangkali senyummu memberitahumu siapa yang bersalah. Orang lain yang mendosa kenapa juga dirimu yang susah?”
Dia berkata “ Musuhku mengepungku dengan teriakannya, kenapa aku tersiksa sedang musuhku semena-mena sesukanya?”
Aku berkata “ Tersenyumlah karena mereka tidak akan melukaimu selama engkau bukan orang yang lebih baik dari mereka”
Dia berkata “ Pekan raya telah menampakkan tanda-tandanya. Nampak olehku pakaian dan boneka. Aku mempunyai tanggungan atas orang-orang yang kucintai. Namun sayang telapak tangannku kosong dari harta”
Aku berkata “ Tersenyumlah karena engkau masih hidup dan tidak kehilangan orang yang engkau cinta”
Dia berkata “ Malam-malam yang berlalu memaksaku menenggak pil pahit”
Aku berkata “ Tersenyumlah walau hidupmu terasa pahit, barangkali jika orang lain melihatmu bergembira dia akan menghilangkan kesedihan yang menyelimutimu, bernyanyilah. Manakah yang lebih baik bergelimang harta dengan rasa hampa ataukah rugi tak berpunya tapi hari selalu ceria? Wahai sahabat, tak masalah bibir yang terluka atau wajah yang hancur tak berupa. Tertawalah karena bintang tetap tertawa meski malam gelap gulita. Sebab itulah bintang kita suka”
Semoga dapat menginspirasi.
Selengkapnya...

Kamis, 02 September 2010

Aku bahagia jika semuanya atas keridhaan Allah


Pening, terasa sisa pikiran dan emosi yang sempat meledak. Terbangun saat suara bedug mengisyaratkan datangnya subuh. Mata masih menatap kelangit-langit ruangan di mana aku terlelap. Lampu di langit-langit terasa lebih menyilaukan dari pada wajahnya. Terlelap hanya karena merasa dicampakkan dan dipermainkan oleh manusia yang menjelma menjadi wanita penggoda hati. Sebenarnya semua yang akan terjadi bisa diprediksi (prinsip yang selalu terpegang), hal buruk muncul karena kita selalu memulainya, memupuknya sedikit demi sedikit. Jika dari awal kita menjaga proporsi perasaan itu, tidak memupuknya, tidak mengiyakan hati yang mau ini mau itu, pasti semuanya juga berakhir dengan keindahan karena buah ketaatan. Ya, ketaatan adalah kuncinya.

Ya..aku mundur. Dari awal toh hanya kekhawatiran yang aku dapatkan. Aku masih memegang prinsip itu, ya...

‘’Jika kalian menemukan cinta, hanya ada dua pilihan. Jatuh cinta atau membangun cinta’’.

Jatuh cinta berarti memenggal leher sendiri. Toh menjadi imam di keluarga nanti bukan hanya berawal dari cinta. Bukan.....karena aku yakin bahwa untuk membentuk keluarga bukan di mulai dari mawaddah (intim dan kemesraan). Tetapi niat untuk menjaga kesucian dengan cara menikah tanpa terlebih dahulu merasakan mawaddah adalah yang diajarkan.
Membangun cinta? Ya, lebih untuk mempersiapkan diri secara lahiriah dan batiniah. Butuh ilmu dunia akhirat untuk menahkodai kapal. Butuh ilmu ruhiyah (spiritual), ilmiyah-fikriyah (ilmu-intelektual), jasadiyah (fisik), maaliyah (material), dan ijtima’iyah (sosial). Karena di depan kita hanya ada dua tujuan, jannah atau nar. Karena membangun dan menjalankan kapal bukan hanya keinginan yang menggebu dan meledak-ledak. Karena untuk semua itu ada prosedur secara syariat, jika pondasinya ada campur tangan syaitan akankah bisa terbangun sebuah rumah yang terhiasi cahaya wajah berseri dari surga oleh seorang sedua sejoli itu?
Ya..aku mundur. Aku memilih orang lain untuk menjadi makmumku nanti, insya allah ini demi menjaga hati.  Bismillah, aku hanya berusaha untuk menjaga diriku sendiri serta wanita itu. Aku sudah berusaha, silahkan kamu memilih yang kamu mau. Toh, dari awal hanya kebimbangan yang kita dapatkan. Karena sesuatu yang mendatangkan keraguan dalam jiwa dan rasa gundah dalam dada karena buah dari mengikuti godaan. Tidah usah terlalu jauh memikirkan itu, yang sederhana saja, yaitu:

‘’Siapapun yang membuka tabir kemudian dia memasukkan pandangan sebelum dia diijinkan, maka ia telah melanggar hukum yang tidak halal untuk dilakukannya’’ (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Bangunlah dengan calon imam mu.. semoga dengan ridla allah. Jika semuanya telah siap, apalagi yang masih ditunggu. Memulai sesuatu memang sangat berat, tetapi memulai dengan keridlaan allah lebihlah utama walaupun jalan penuh hantaman ombak harus dilalui. Dari pada memulai sesuatu dengan melewati jalan lebar yang tiada hambatan, tetapi tanpa keridlaan allah. Tidak ada dua imam yang harus ditaati oleh kita...

“Barangsiapa membai’at seorang imam lalu dia telah memberikan jabatan tangan dan kerelaan hatinya, maka hendaknya dia taat kepadanya dalam batas kemampuannya. Jika ada yang lain dibai’at, maka penggallah leher yang lain itu.” (HR. Muslim no. 1844, dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash radhiyallahu ‘anhuma).

Ya....inilah perjalanan dalam membangun separuh iman kita. Marilah memulai dengan niat dan cara yang allah inginkan. Bismillah dan mulai dari sekarang.
Aku bahagia jika yang kamu pilih menahkodai kapal yang kalian buat dalam waktu dekat dan akujuga bahagia jika akhirnya imam itu bisa menjaga dan menuntunmu menjadi perhiasan yang paling indah di dunia.
Wassalamu’alaikum...
Selengkapnya...

How if that “still” that was lost?


Sumber gambar: http://rifafreedom.files.wordpress.com/


Di depan mushola itu masih ada satu sandal yang tidak ada pasangannya. Tongkat masih terlihat tersandar di dinding saat melihat ke arah pojokan mushola. Dia selalu hadir saat shalat maghrib didirikan, malahan dia datang duluan disaat yang lain masih berbuka. Satu kaki kirinya masih kuat menegakkan dan menopang tubuhnya di setiap gerakan shalat. Sangat malu jika diri ini tidak ikut serta dalam barisan penegak seruan-Mu bersama orang-orang yang pandai bersyukur termasuk dia. Dibalik ketangguhannya ada istri yang ridha akan keadaannya, kuat dan sabar dalam keridhaan Allah.

Ya Allah segala puji hanya bagi-Mu...
Saat ini telingaku masih mendengar panggilan-Mu walaupun terkadang ditulikan dengan indahnya seruan duniawi.
Kaki ini masih mau melangkah memenuhi seruan-Mu walaupun terkadang enggan dan memilih ke jalan yang mengantarkan kepada tempat yang jauh dari ridha-Mu.
Tangan ini masih mau menengadah memohon harap pada-Mu walaupun terkadang lemah untuk menengadah karena lelahnya mengerjakan hal yang mendatangkan kesenangan dunia semata.
Mulut ini masih bisa mentartilkan kalam-Mu walaupun terkadang sibuk bersyair dengan penuh kesombongan dan kebohongan.
Mata ini masih bisa meraba firman-Mu walaupun terkadang menerawang kepada yang tidak Engkau ijinkan.
Hati ini masih bisa tersentuh dan peduli apabila Engkau hadirkan pertanda di sekelilingku biarpun hanya sebagian kecil dan lebih sering kali tidak bisa menerima tentang apa yang Engkau putuskan terhadap diriku.
Ya Allah, bagaimana jika nikmat yang ‘masih’ itu Engkau cabut dari ku dan membiarkan diri ini sendirian terombang ambing jauh dari jalan yang penuh petunjuk dan keridhaan-Mu? Semoga Engkau hadirkan pendamping hidup bagi setiap hamba-Mu yaitu pendamping yang mampu ridha akan keadaan hamba, mampu menenangkan, mententeramkan dan sabar dalam mengingatkan untuk kembali pada keridhaan-Mu. Amin... (Sekian, waktu menunjukkan shalat isya’ berjamaah).
Selengkapnya...

Rabu, 16 Juni 2010

Bahagia Mereka Yang Mati Muda

Tulisan di kala "menunggu", hayooo nunggu apa?



Sumber Gambar: mimbarjumat.com/archives/category/taqwa
 

Badannya membungkuk dengan menyandarkan kedua tangganya pada kedua kakinya, duduk di kursi panjang yang terlihat rapuh di bawah rimbun pohon yang sebagian daunnya ikut menghiasi lapuknya kursi tua itu. Terlihat gulungan koran di tangan kirinya. Muka yang kurus oval yang dari tadi kuamati, selalu menyembulkan senyuman simpul, dengan mata cerahnya mengamati dua pasangan nan jauh di ujung.


“Apakah yang saudara cari di tempat ini? Teduhnya tempat ini dari sengatan sang surya? Ataukah suasana hening dan sejuknya yang dapat memberikan kedamaian dalam hati?”, terlintas tanya dalam kepala sang pemuda itu..

“Aku di sini sedang belajar, tidak..!! Aku hanya mengamati kehidupan orang-orang di sekitarku, toh.. masih banyak kehidupan orang-orang yang ada jauh di luar sana yang belum aku tahu”, jawab hatinya..

“Di ujung sana, di kursi panjang yang elok itu ada sepasang muda-mudi sedang bercengkrama dengan asyiknya, tangannya bergandeng, kaki mereka berayun seraya sang gadis mengistirahatkan kepalanya pada bahu sang lelaki, ya....mereka berdua tampaknya dalam bahagia yang sangat. Seakan-akan jika salah satunya pergi meninggalkannya, pastilah yang satu takkan mampu untuk melanjutkan hidupnya sendiri. Tak maukah kau mencari kekasih seperti pemuda itu? Kelihatannya mereka akan selalu bahagia dalam setiap hari yang mereka lalui”, kembali pikirnya mencoba memberikan usulan kepada hati yang sejak duduk tadi selalu merefleksikan apa yang di lihat dengan simpul senyuman..

“Apakah mereka merasakan kebahagian yang sesungguhnya? Apakah yang mereka lakukan merupakan wujud dari tanggungjawab yang hakiki? Aku yakin mereka sedang merasakan buaian hati untuk waktu yang sesaat. Apakah jadinya jika akhirnya Sang Penguasa Hati tidak mengijinkan mereka untuk bersama dalam ikatan yang sah? Apakah niat mereka benar? Jika niatnya benar, apakah cara yang dilakukan mereka benar? Jika niat dan cara mereka benar, apakah mereka istiqomah di jalan yang benar?”, kembali hati kecilnya mencoba untuk mempertahankan argumentasi lama nya...

“Apakah kamu tidak ingin merasakan kebahagiaan sebelum kamu mati dengan pendirian konyolmu itu? Meninggalkan dunia yang indah ini tanpa belum merasakan sekalipun kebersamaan dengan seorang wanita?” , pikiran seakan tak ada buntunya dalam menuntun hati ke dalam tempat yang hampir tak ada cahaya sedikitpun...

“Bahagialah mereka yang mati muda karena mempertahankan ketaatan dalam berkeyakinan terhadap agamanya. Lebih baik mati muda dengan kekayaan hati dan pikiran yang lugu dan tabu dari budaya jahiliyah dari pada panjang umur tetapi berselimut tebal budaya jahiliyah. Semua orang pasti ingin merasakan kebahagiaan sekaligus kebaikan, dan hanya ketaatan lah yang dapat membawa semua orang dalam dunia yang penuh dengan kebaikan. Tapi entahlah..... apakah kebahagiaan yang banyak orang rasakan itu apakah sebuah kebahagiaan. Ya, mungkin menurut mereka.. dan aku??? Aku masih belum bisa menerima kalau niat yang baik belum tentu dapat merubah hal yang dilarang menjadi boleh untuk dilakukan. Aku hanya mengharapkan kepastian dalam janji-Nya. Untuk itu aku sekarang mencoba bertahan...”.

Kucukupkan sekian perdebatan antara hatiku yang mungkin di dalamnya masih ada sedikit kebenaran dalam memberikan rasa dengan pikiranku yang masih sering buntu jika diminta mempraktekkan apa yang ada dalam keyakinanku. Walaupun demikian, aku masih akan terus mencoba bertahan dengan apa yang ada dalam dadaku saat ini, dan semoga sampai dada ini sesak hingga hati dan pikir kembali hanya pada yang satu...

Todays Quote:
Seorang pacar belum tentu kelak akan menjadi istri/suami kalian, tetapi seorang istri/ suami tentulah kelak pasti akan menjadi pacar kalian. Setuju...........

Maaf jika penulis sendiri belum mampu berlaku seperti apa yang di tulis. Semoga bersama-sama bisa saling memberikan kebaikan terhadap sesama. Semoga ada manfaatnya.

Selengkapnya...

Senin, 17 Mei 2010

Aku Berjalan dan Mencoba Menghargai Masa Lalu

(Moment: Monas, 15 Mei 2010)

Sebisanya aku berjalan untuk mendapatkan sebuah makna dalam hidup ini, makna tentang iman, cinta dan ilmu. Iman lah yang mengarahkan hidup kita, mau berpedoman kepada apa lagi? Cinta lah yang membuat hidup jadi lebih indah dan Ilmu lah yang membantu hidup jadi lebih mudah.


Selengkapnya...

Minggu, 16 Mei 2010

Cinta itu Tanggung Jawab, Ungkapkan Hanya Pada Saat Khitbah

(Lokasi : Halte Busway Bundaran HI, 16 Mei 2010)
 

Lihatlah dunia dengan mata dan hatimu, lalu berfikirlah..... (emmmm....biasa-biasa aja). Apa yang kita lihat dan kita fikirkan entah itu tentang apa yang kita lakukan atau orang lain lakukan, selalu berorientasi pada egoisitas diri sendiri. Setegarnya kita dalam menerima peraturan hidup, selalu masih melahirkan keinginan untuk memberontak. Terutama hati yang berontak karena ingin segera merasakan yang namanya mawaddah (rasa kasih atau kecintaan) tanpa adanya ikatan, nah loh...


Pernah aku membaca kalimat yang ditulis Salim A Fillah dalam bukunya " Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim" yaitu:

“Antara cinta dan menikah ada dua pilihan, menikahi orang yang kita cintai, atau mencintai orang yang kita nikahi. Pilihan yang pertama bisa terwujud atau tidak terwujud. Sedangkan pilihan yang kedua adalah kewajiban. Maka wahai para wanita, jika ada orang yang menyatakan cinta padamu belum tentu dia bisa menikahimu, tetapi jika ada yang mengajak nikah denganmu niscaya dia siap mencintaimu apa adanya”.
Cee iii leeeh....... (co cweeetzzzzz), bahasane mlethik tekan ngendi-ngendi...he...

Bener bahwa pilihan yang pertama bisa terwujud atau tidak terwujud, karena keputusan ada di tangan seorang wanita. Pria diberi hak untuk memilih wanita yang terbaik menurutnya untuk disunting sebagai pelengkap separuh agamanya. Maka dari itu, mohon bagi para wanita untuk memahaminya jika pria yang kalian idamkan tidak memilih kalian. Mungkin Allah akan memberikan penggantinya yang lebih baik, amin. Begitu juga wanita berhak menolak khitbahan dari seorang laki-laki, walaupun kalian tidak berhak memilih, tetapi kalian berhak untuk menolak... (mungkin dia belum beruntung karena telah menolak aku, whatsssssssssss????? hee..).

Menurutku cinta itu tanggung jawab, jika mengucapkan cinta maka harus siap bertanggung jawab untuk menikahinya. Enak aja, tinggal jawab nggak mau nanggung. Itu mungkin alasan bagi seorang pria, mengapa dia tidak mau mengungkapkan perasaannya. Mungkin saat ini dia belum siap untuk menikah, tetapi di balik alasan itu ada sebuah kerja keras untuk mempersiapkan diri bahkan melebihi persiapan orang-orang yang telah mengungkapkan perasaanya pada calon pasangannya. Wuihhhh...keren kan usahanya, berarti dia itu taat dan menghargai seorang wanita. Pengeeennnnnnnn... hayo siapa yang pengen jadi makhtubah?

Menurutku juga, perasaan itu sebaiknya disampaikan pada saat khitbah berlangsung. Jika seorang calon suami ingin menikahi seorang gadis, maka khitbah (pinangan) itu harus disampaikan bukan kepada si gadis, tetapi kepada orang tua si gadis secara langsung. Seorang gadis tidak tahu apa-apa dan tidak punya hak secara hukum untuk menerima pinangan seorang laki-laki begitu saja. Perlu diketahui juga, saat kita menyatakan perasaan/cinta, berarti sudah masuk terhitung khitbah (astaghfirullah, aku juga baru tau sekarang ini..bismillah, cukup sekali saja)....

Oke dech, cukup ya. Semoga tulisan ini bisa memberikan manfaat..
   
Today Quote:  Inni uhibbuka fillahi '' Saudaraku, aku mencitaimu di jalan Allah ''....bismillah mari kita mempersiapkannya.
Selengkapnya...

Jumat, 14 Mei 2010

Laila-Majnun atau Salman Al Farizi

 (Terinspirasi dari membaca kisahnya Salman Al Farizi)




Seperti apakah kisah cinta yang kalian inginkan? (hahahaha...mulay dech alayy nya...) Apakah kalian menginginkan kisah cinta seperti kisahnya Laila-Majnun? Atau kisahnya Salman Al Farizi? Atau malah milih kisahnya Praboe Sembodo? Huek huek....he.. 


Kisah Laila-Majnun menceritakan seorang pemuda bernama Praboe Sembodo eh... Qais, seorang pemuda putra dari Al-Mulawwah yang mencintai seorang wanita bernama Laila, putri seorang pemimpin kabila bani amir Al Mahdi. Cinta Laila-Majnun tidak berjalan indah karena larangan adat yang tidak memperbolehkan bersatunya mereka berdua. Laila akhirnya menikah dengan Sa’ad bin Munif seorang saudagar kaya raya yang berasal dari Irak. Ayah Laila yaitu Al-Mahdi menerima lamaran tersebut karena tergiur harta. Laila di lamar dengan mas kawin 1.000 dinar. Sebelum mereka menikah, Al-Mulawwah berniat melamarkan Laila untuk Qais dengan mengganti 1.000 dinar dengan 100 unta. Tetapi ayah Laila dengan sombong menolaknya.

Setelah menikah ternyata cinta Laila kepada Qais tidak pernah pudar  (kayak teh Rossa ya? he....) tetapi malah semakin menjadi. Setiap hari Laila hanya melamun.  Sa'ad Bin Munif yang sebagai suami sahnya Laila tidak pernah menyentuh istrinya karena melihat keadaan Laila yang selalu tertekan batinnya. Keadaan yang berlarut menyebabkan Laila sakit. Banyak tabib ternama yang berusaha menyembuhkannya tetapi nihil hasilnya. Singkat cerita meninggal lah Laila. Pesan terakhir Laila kepada Qais adalah bahwa walaupun mereka tidak bersatu di dunia, mereka akan bersatu di akhirat. 

Putus asa lah Qais setelah ditinggal mati oleh Laila. Apapun cara yang dia lakukan hingga seperti orang gila (sehingga di sebut dengan Majnun yang artinya gila) ternyata tidak bisa menjadikan mereka bersatu. Setiap hari Majnun merintih di pusaran Laila hingga meninggal yang akhirnya dikuburkan bersanding dengan pusara Laila.

Apa saja yang membuatmu bahagia...
Telah kulakukan untukmu demi mengharapkan cintamu...
Kini kubagai menanti datangnya pelangi...
Di malam hariku yang sepi...

Hee...nyomot laguna si Pidi (Red: Vidi) yang judulnya "Pelangi di Malam Hari".. Bukankah seharusnya kecintaan pada apa yang di dunia tidak boleh membutakan hati kita, sehingga tidak bisa menjadikan perantara kita untuk menjadikannya bekal kemudian di akhirat? 
          
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-   wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” 
(Q.S Ali Imran [3]: 14)

Sedangkan cerita Salman Al Farizi kurang lebih begini....
Salman Al Farizi (Persia) memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita anshar (Madinah) yang mukminah lagi shalehah telah mengambil tempat di hatinya. Mengkhitbah wanita pribumi haruslah tau tradisinya, maka dari itu Salman meminta bantuan Abud Darda', seorang sahabat anshar yg dipersaudarakan dgn Salman.

Abud Darda' berkata '' Ini adalah Salman seorang persia. Allah telah memuliakannya dengan islam dan ia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah sampai beliau menyebutnya sebagai ahli baitnya. Saya datang mewakili saudara saya Salman untuk melamar puteri anda''.

Ayah sang wanita berkata '' Adalah kehormatan kami menerima anda berdua apalagi bermenantukan shahabat Rasulullah. Tetapi hal ini saya serahkan sepenuhnya kepada puteri kami''.

Ibu sang wanita berkata '' Maafkan atas keterusterangan ini. Puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda' memiliki urusan yang sama maka puteri kami memiliki jawaban mengiyakan''.

Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sebuah perasaan di mana cinta dan persaudaraan berebut tempat dlm hati. Malu yang membuncah sekaligus sebuah kesadaran bahwa ia belum punya hak sedikitpun atas wanita yang dicintainya.

Salman berkata '' Allahu Akbar, semua mahar dan nafkah yang talah kupersiapkan ini akan aku serahkan kepada saudaraku Abud Darda' dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian''.


Reff: Pelangi di Malam hari
Cinta…tak harus memiliki, tak harus menyakiti...
Cintaku tak harus mati...
Oh cinta…tak harus bersama, tak harus menyentuhmu...
Membiarkan dirimu dalam bahagia...
Walau tak disampingku, itu ketulusan cintaku...

He....lagi-lagi nyomot lagunya Pidi, euleh...euleh...

Today Quote: Allah tidak melarang yang namanya cinta, bahkan dalam Al-Qur'an Allah telah mengaturnya. Cinta pada manusia bukanlah akhir dari tujuan hidup kita. Cinta selayaknya di jadikan perantara dalam menggapai ridla Illahi bukannya menjadi api yang membakar diri kita sendiri kelak di akhirat. Bismillah, semoga kita bisa saling mengingatkan, menguatkan, saling menasehati dalam kesabaran dan kebaikan. 

Jika ada kesalahan dalam saya menuliskan ceritanya, mohon untuk dibenarkan. Terima kasih..
Selengkapnya...

Rabu, 12 Mei 2010

Kesendirian Menghapus Kesepian dan Amarah

(Inspired foto @ Bidadari Island)


Aku sendiri, aku tersesat dan aku hilang. Tapi dengan semua itu aku tersenyum, menatap lalu melangkah. Aku percaya bahwa tegaknya berdiri bukan berarti kesombongan, tak goyahnya prinsip bukan berarti keras kepala, dinginnya sikap bukan berarti dinginnya hati, diamnya mulut tak berarti tak bersuaranya kalbu, tunduknya dalam memandang tak berarti tak ada niat untuk menghargai, mundurnya langkah tak berarti menyerah......

Dalam setiap sikap di atas ada sebuah pembelajaran. Semua itu penuh makna jika kita fahami dalam kesendirian yang hening. Hanya aku dan Dia. Ada beribu kata dalam diamnya seseorang, ada beribu  hasrat dalam pandanganseseorang, dan ada seribu makna dalam dinginnya sikap seseorang. Tidak perlu berfikir macam-macam dalam semua sikap itu. Ya..seseorang butuh kesendirian dalam memaknai hidupnya, butuh keadaan sendiri dalam menjaga hatinya, butuh diam dalam meredam emosinya, butuh menunduk dalam menghornatinya lawan pandangannya, dan butuh mendinginkan sikapnya dalam meluapnya amarah. Tak selamanya diam itu marah....

Semoga ada manfaat dari tulisan ini..., malam ini aku hanya mencoba mengikuti jari-jariku untuk menulis semua kata ini, ceilah...boro-boro tertulis tanpa ada ide sebelumnya.. Wong dari tadi mikir njlimet nganti ora adus-adus, tapi temenku anteng-anteng aja ngumpul di kamarku. Yihu...aka..ciuuuuu.....berarti? Dah tau kesimpulannya kan? Walaupun jarang mandi, tetep......
Selengkapnya...

Selasa, 11 Mei 2010

Berdoa Untuk Yang Di Ujung jalan

                                                   (Terinspirasi perbincangan dengan Bang “Y” di Unit Pencarian Cinta PK)

Aku tak sedih, pun tak marah juga...  Aku percaya, sebelum aku mampu, Engkau tak akan memberikan tanggung jawab yang besar terhadapku. Berarti Engkau masih memberikan waktu bagiku untuk memperbaiki diri, bermuhasabah, untuk lebih mengenal arti bersyukur, bersabar dan ikhlas. Pernah Engkau memberikan ibrah kepadaku dengan mendatangkan sosok yang menarik hati...baik di mataku. Tetapi dengan lembutnya Engkau menegurku, tak memberikan kesempatan buat melangkah lebih jauh, dah menyesatkanku di jalan yang Engkau pilihkan. Jalan itu adalah ‘jalan-Mu’. Dan kini aku bersyukur di jalan itu.
Ternyata syaitan mempunyai tipu daya yang membuaikan mata, hati, telinga dan fikiran. Mereka menjelma dengan jargon ‘main cantik’ nya. Pintu hati sudah tertutup, tetapi mereka menampakkan diri melalui senda gurau atau godaan manis kecil lewat sosok manusia yang berlain jenis. Dan bodohnya aku, meladeni tipu daya itu. Sungguh benar, syaitan itu musuh nyata yang masuk dengan cara permisi (tidak mendobrak paksa) pintu hati kita. Dan kita sendiri yang mempersilahkannya. Dimana iman kita saat mereka masuk secara halus... setelah itu mereka membakar hati kita.
Apa yang saat ini terasa, aku biarkan mengalir apa adanya. Kumohon berikan kemudahan untuk hati ini membaca arah jalan sesuai dengan kehendak-Mu. Walaupun Kau memberiku kesempatan untuk memilih jalan, tuntunlah kedalam jalan yang penuh keridlaan-Mu. Hingga akhirnya di ujung jalan itu, Kau temukan aku dengan separuh agama ku yang penuh kerendahan hati, sederhana, memberikan pandangan yang menyenangkan sekaligus menenangkan, yang mau membangunkan sekaligus dibangunkan di sepertiga malam. Mau diredamkan emosinya sekaligus meredamkan emosi ‘sang pujangga’ hatinya. Selalu punya alasan dengan cubitan kecilnya jika ia marah.
Minta atau ngerampok mas?, he... kebablasen jadinya. Emmmmmm....ngarep.com, jadi kebanyakan mintanya dari pada berusaha untuk memberpaiki diri. Sekarang waktunya untuk menambah semangat, kali ini perlu satu paket cireng goceng rasa keju, nasi kikil plus usus dibungkus plastik warna pink (ga mau kalo pake warna yang laen), minumnya es jeruk zero sugar...
Semoga ada manfaat di balik tulisan ini, amin.. 

Selengkapnya...

Minggu, 09 Mei 2010

Alasan Orang Menikah


                  (Terinspirasi bercandaan dengan anak-anak kosan)      
     


Hehehehe........once upon a time i still remember hasil chattingan sekaligus komen di status  peckbuk (*baca facebook*) dengan Mr. Harahap di suatu malam yang indah, ditemani oleh langit yang berhiaskan bintang dan rembulan, serta dikelilingi oleh sahabat2 sejawat, alah..kumat alay nya...huek huek tuing tuing mulai llllueeeeebaaaaayyyyyy dechccc. Sorry nie...agak dimanipulasi, tp intinye tetep sama ajah. Sok atuh di baca bae (mau nulis ke bahasa sunda aja konsultasi dulu ama kamar depan).

Dan....tu si Bang “P” kenapa naek ke atep?, tanya Mr. H.
Au ah gelap.., jawabku.
Tolong suruh turun dan, kayaknya lagi patah hati dewh..wekekeke, pinta Mr. H.
Masak sich? (**emang sih, lagian dari kemaren kok hobinya naek ke lantai 2 mulu kalo cuma mau nelpon-nelpon**), balasku.
Kita daptarin ajah ke Take Him Out gimana? Hehehe...ikikikiki biahahahahahaha... huek...huek...., saran Mr. H.
Palingan dibikinin mie rebus dua bungkus+pilus juga udah turun, wkwkwkwk... kalo tetep ga mau entar ditambahin cireng yang paket goceng, atau nggak ke warung Mak Jang bungkusin nasi ama tongkol, dijamin mau turun dah, hadew....., he..tak balas lagi dengan lelucon.

Dari kemarin perasaan deadline nya kok nikah mulu (ampe pada rebutan buat dapetin mbak-mbak petugas sensus yang datang ke kos, aku sih ga ikutan, heeee...akaaaaciiiuuuuuuuuu) . Emang nikah ga pake duit? Eh, ngomong-ngomong nikah pake duit ga sih?.. Dari yang pernah aku baca, ada beberapa alasan orang menikah, yaitu:

1.       Ketabrak becak (*kecelakaan maksudnya*), naudzubillah....
“Laki-laki yang berzina tidak akan mengawini melainkan dengan perempuan yang berzina atau perempuan musyrik. Dan perempuan yang berzina tidak akan mengawininya melainkan dengan laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mukmin”. (QS. An Nur 24:3)
2.       Udah tua...hehehe, yang ngerasa angkat tangan? Maksudnya sudah berumur atau sudah dikejar udzur..eh salah dikejar umur maksudnya.
3.       Terlanjur udah sama-sama cinta kale..
Ehem..ehem...cekh..cekh..satu dua tiga...
“Aku terlanjur cinta kepadamu...dan telah kuberikan seluruh hatiku...tapi mengapa baru kini kau pertanyakan cintaku...aku pun tak mengerti yang terjadi..apa salah dan kurangku padamu..kini terlambat sudah untuk dipertanyakan..karena sekali cinta..aku tetap cinta...” huek huek wekekekeke.... (hadew...mirip bangetnya ama penyanyi aslinya).
4.       Terpaksa (maksudnya sudah nggak ada wanita/pria lain yang mau, waduh...kasihan banget, piye jal?), kayaknya udah sehidup semati cuma dia yang mau, asalkan nafkahnya cukup sih tetep cinta, yo mesti lah...
5.       Ini mungkin alasan idaman bagi setiap orang. Pas siap lahiriah, batiniah, maaliah, fikriyah, dan ijtima’iyah pas juga ketemu pasangan yang sudah siap juga. Haduh.....kapan ya? Ngarepp...Hayoh jangan pada mupeng, hahahaha...

Today quote:
“Semua alasan di atas adalah sebuah pilihan, apa yang terjadi dengan diki kita di hari esok ikut ditentukan oleh apa yang kita lakukan detik ini, menit ini...”
Selengkapnya...

Selasa, 02 Maret 2010

Ayak-ayak Wae



Haduh ayak-ayak wae
Selasa, 09 February 2010

Huuuffftttt... panasnya siang ini, sepi lagi. Aduh berat hati ini kalo ga ada kerjaan ,ngerasa makan gaji buta (sok ngerasa bersalah, cring :) hehehehe..). Komplit dah penderitaannye, cuman gak pake telor, cabenya juga dikit ajah, sayurnya setengah mateng, kecapnya banyakan, ama porsinya setengah aja, setengah baskom maksudnya. Nah loh ngomongin ape cing? Cuit-cuit cethok-cethok, uhuk-uhuk.. haduh kondisi ini bikin tambah emosiiiiii.

1. Berangkat kerja telat gara-gara mampir kantor cabang, pas mau buka rolling door ngobrak-ngabrik tas, kok kunci ga ada cing? Uoooopppooooo......? Kunci kantor ketinggalan pak (heeeee...sambil masang muka afghan yang meringis tersipu malu) pada pak satpam. Balik kosan maning, hadeuh. Padahal tadi udah finish dengan rute kosan-cabang-unit, dan sekarang balik start lagi? Ayak-ayak wae dan dan.
2. Haduh... nyrempet spion Honda CRV! Gara-gara kesiangan mau buka pintu kantor, bikin mood ga tenang, dan asal salip kanan salip kiri aja. Dasar ga bisa tenang.. sopir udah klakson tan tin tan tin tan tin, hee... aku cuma bisa berlalu sambil angkat tangan yang sebelah kiri doang. Dalam hati ''maaf pak ga da duit kalo suruh ngganti spion'', heee.. ini juga demi kantor yang alamatnya di sebelah polsek cengkareng noh.
3. Pesen ketoprak busyet dah lama amat, coba pikir. Udah belum mikirnya? Lama banget mikirnya... setengah jam ada nih nungguin bapaknya ngulek sambel kacang, mendingan ngulek sendiri juga. Anak-anak kos pasti ngeluhnya sama, katanya ''nunggunya satu jam, makannya 5 menit'' keburu badan gemeteran gara-gara kelaperan. Nggak segitunya kaleeeeee.
4. Udah sore buru-buru mau pulang ke cengkareng, karena takut telat ampe cengkareng (sorry, soalnya di cengkareng banyak penggemar), glodak, krompyang, mak gedebhugggg. Yang ngerasa jadi penggemar jangan protes!!!!!!!!!!!! Keputusan tidak bisa diganggu gugat. Hahahaha... Eh, baru mau puter arah tiba-tiba ada truk yang mau nabrak 'investasi permata ku di jakarta' (alias boncengan) cing. ''Woi, matanya di taruh dimana? Ga liat ada orang ganteng lewat apa? Ntar kalo ampe nabrak gimana? Mentang-mentang situ lebih jelek. Turun kalo berani, mau ke warung makan mana ayo tak turutin''. He.. Don't try this at home.

Yakin Dani berani ngomong gitu? Palingan juga nunduk aja, sambil pringas-pringis. Astaghfirullah... Jangan sampe lepas kendali sampai marah-marah dengan kondisi yang di atas. Ayo siapa yang mau bikin marah aku lagi? Weeee aku ga takut. Semoga ga mempan semua jurus yang kalian gunakan. Allah menciptakan semua kejadian supaya kita belajar bagaimana bersikap, bertutur kata, bermasyarakat dengan orang-orang di sekitar. Jadikan semua peristiwa sebagai media untuk memperbaiki diri dan untuk lebih sabar. Dan inti dari setiap peristiwa adalah supaya kita lebih bertaqorub pada Allah. Selengkapnya...

Jumat, 29 Mei 2009

Memory Cikoepa


Wih, Afgan Sahreza kok nyasar ampe nampang di blogku. Gak salah nih? Kayaknya mang ga salah deh. Yoi kan? Mbok jawab ya, buat nyenengin aku doang nih. Photo ni tak ambil waktu On The Job Training di Pegadaian Cabang Cikupa Tangerang. Ama Andi, juga ama Si Fey. Mereka sekarang kok ga pada konek lari kemana ya?
Ngekos bertiga cuma 100-an ribu tiap orang. Seneng bangetz pastinya. Tempati sangat bersih, sampe-sampe pas masuk kamar, ga ada satu barang satupun. Ga ade tiker, ga ade bantal, ga ade ape2 deh. Yang ada sih nyamuk doang kali. Untung si Fey bawa tikar ma bantal dari rumah, untung kan? Wa ka ka ....... Ra modal blas deh pokjoke. Tapi enak juga lho, kalo berangkat kerja, pulang kerja ampe cari makan juga ber 3-an terus. Triple Boyz Bangetz.......

Selengkapnya...

Gitar Koe



Habis pulang ngantor bingung mau ngapain, nonton tv bosen, dengerin music bosen juga, mau internetan mahal juga. Satu-satunya ya, maen gitar ndiri, di denger-dengerin ndiri. Terserah aku teriak-teriak, biar semua tahu kalo suaraku sangat-sangat-sangat, sangat apa coba? Coba tebak????? Wah anda salah nih, sangat jelek bangetz pokoke. Wah pede bangetz ki.
Lha mau gimana lagi wong mau maen kemana-mana juga butuh biaya. Mendingan yo di kos-kosan aja. Menggali bakat yang terpendam, sedalam sumurlah. Kayaknya lebih dalam lagi deh. Buat temen yang mau ngasih saran, ngasih aja tapi ga gratis loh. Anda harus jadi member di blog ku dulu. Gampang bangetzkan. Dah ye, see you bye.......

Selengkapnya...

Jumat, 15 Mei 2009

Jalan ke Monas





Sabtu kemarin dapet liburan, mending lah dari pada kerja juga capek banget. Eh, ternyata dapet kerjaan juga nyebarin brosur dari pagi ampe siang ama satpam kantor. Capek2, malah si manusia jahil dateng, Golden ma Andreas. Dan maen yu.....k? Maksude piye? Lagi tepar malah diajak jalan-jalan. Rencana mau tidur siang sih ada banget, tapi tu 2 manusia dateng ke kos, intinya ngajak maen lah, masak mau ngasih oleh2? Mungkin aja kali....
Mumpung anak-anak lagi pada dengerin musik tak tinggal tidur aja mereka. Jam 3 sore bangun juga. Kita makan deh, tapi sebelumnya sms mbak Ciput dulu, alias Putri Pertiwi Pager Wesi. Makan deh kita ber4. Habis itu naek aja busway, rencana turun di Monas, katanya mau nginep malam mingguan di Monas. Biar pada ngerasain seumur-umur nginep di Monas.
Nyampe Monas jam 5 sore cuy. Muter-muter cari pintu masuk kok ga ketemu-ketemu. Diumpetin dimana tu pintu, kali satpamnya tau kalo kita mau dateng. Masak di sono cuma take photo doank, ga lucu donk. Naik ke yang paling pucuk asyik kayaknya. Nah lo, ternyata kita dah ga dijinin lagi buat naek. "Mas, mau nginep di atas ya, tikernya mane cuy"? He he he kita kesorean cing.
Akhirnya ya cuma muter-muter kayak gangsingan aja. Ujung-ujungnya Maghrib sekalian Isya di Istiqlal aja, beli gorengan sambil jenk-jenk di pinggir selokan. Pulang dah cuy......... Zzz..zzz...zzz. Bertiga nginep di tempate Andreas dah. Tamat cing.


Selengkapnya...

Rabu, 14 Januari 2009

Piknik Ke Anyer Ma Abi

Anyer 28 Desember 2008. Acara maen ke Anyer ama keluarga masku (Mb Erna, Abi Kecil, Mbah Abi, Ita, Aku ma Mas Ito ga keliatan). Selama liburan OJT di Kantor Cabang Pegadaian Cikupa tak sempatin maen ke Anyer, mumpung ada yang ngajak maen,heeeee. Pagi jam 9.30 dah nyampe di Anyer, tapi hujan ma ombaknya gedhe bangetz. Mumpung dah nyampe di air, nyemplunk aja sekalian maen air sepuasnya.
Pulang dari Anyer jam 12.30 an lah, nyampe Tangerang aku langsung tancap gas naik bis lagi ke Cikupa buat masuk OJT di hari Senin nya. Pokoke capek buangetz campoer pikiran yang dah bebas capek and fresh. Agenda maen ke depan kapan lagi yaa...............?



Selengkapnya...

Jumat, 21 November 2008

My Editing Photo




Timbang nganggur, tura-turu, modang-madang, mripate kiyap-kiyip mbliyeng ra karuan mending tenguk2 nyoreti foto ae. Ra payu di enggo dewe. Jan ra patut blas, kayan-kayane mandan suwe kok raine katon tambah bagoes ae. Sing moco ra usah komentar, paling-paling meh maido thok to?
Kangge rencang-rencang ampun mendet gambar tanpa seijin house production. Nopo maleh yen ajeng di engge dol-dolan. Mboten pareng nggih. Yen purun, mang kondho kalih kulo mawon. Nuwun-nuwun, matur nuwun. Sumonngo.
Selengkapnya...